Dampak Pandemi Corona, Pembatasan Sosial Bakal Berlangsung Hingga 2022?

Dampak Pandemi Corona- Kondisi yang tengah dihadapi oleh hampir semua negara di dunia saat ini, pandemic virus corona atau covid 19 membuat banyak aspek dalam kehidupan masyarakat terkena dampaknya. Salah satunya dalam kehidupan sosial, terutama terkait kebijakan social distancing atau yang kini oleh WHO ditingkatkan menjadi Physical distancing selama masa pandemic.

Bahkan Ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia, Pandu Riono berpendapat jika social distancing maupun phsyical distancing memang harus dilakukan sampai 2022. Namun yang ia maksud bukanlah batasan jarak fisik dan sosial seperti lockdown, akan tetapi lebih mengarah pada perubahan gaya hidup masyarakat untuk mengurangi risiko penularan Covid-19.

Lebih spesifik lagi,Pandu menjelaskan perubahan gaya hidup masyarakat yang paling sederhana dan dapat dilakukan dengan mudah adalah mencuci tangan, memakai masker, hingga menghindari kerumunan orang yang sangat padat.

Hal yang disampaikan oleh Pandu sebenarnya adalah tanggapan atas penelitian  yang dilakukan oleh Harvard T.H. Chan School of Public Health. Penelitian tersebut menghasilkan sebuah hasil yang memprediksi kebijakan batasan jarak fisik mesti diperpanjang hingga 2022 bila obat dan vaksin tak kunjung ditemukan.

“Jadi kita harus mengubah gaya hidup, bukan berarti harus lockdown sampai 2022. Akan tetapi, kita harus kurangi risiko-risiko yang meningkatkan penularan. Paling sederhana adalah semua orang harus cuci tangan dan pakai masker, meski mereka sudah kembali ke kehidupan sosial biasa dan menghindari kerumunan,” ujar Pandu dilansir dari CNNIndonesia.com, Jumat (17/4).

Menurut pengamatan Pandu, prediksi dari para peneliti Harvard tersebut banyak disebabkan karena ketidakpastian terkait virus Covid-19. Ketidakpastian ini salah satunya adalah mutasi virus Covid-19 yang bisa menghambat penemuan vaksin dan obat.

Dampak Pandemi Corona, Pembatasan Sosial Bakal Berlangsung Hingga 2022

Perlu Sikap Positif Dan Upaya Bersama

Prediksi tersebut, menurut Pandu harus diterima secara positif karena bisa membuat berbagai perubahan dari sisi kesehatan publik.

Namun hal tersebut bisa menjadi tantangan untuk pemerintah dalam mempromosikan konsep kesehatan masyarakat.Tak hanya imbauan cuci tangan, memakai masker dan menghindari kerumunan, pemerintah juga harus berperan untuk melakukan rekayasa sosial dan infrastruktur untuk menghindari area padat.

“Upaya kegiatan-kegiatan itu tidak lagi crowded area, tidak lagi stasiun penuh dengan orang dalam jumlah banyak. Masyarakat yang berada di area pada penduduk harus dipindah. Jakarta itu kan gaya hidupnya sangat padat,” ujar Pandu.

Menurut Pandu, rekayasa sosial dan infrastruktur tersebut bisa dijadikan sebagai kebijakan pembangunan bagi seluruh pemerintah di seluruh dunia dalam rangka menjaga kesehatan masyarakat.

“Mungkin harus ada rekayasa sosial dan infrastruktur supaya masyarakat di padat penduduk itu dibangun apartemen atau rumah susun. Setiap infrastruktur bangunan rumah harus ada ventilasi yang selama ini bagian kesehatan dilupakan.” kata Pandu.

Leave a Reply