Masyarakat Panik, Media Sosial Sebarkan Informasi Terkait Virus Corona Di Media Sosial, Hoax?

Saat berbagai media pemerintah Cina meminta warga agar tenang dan juga memuji respons pemerintah terhadap wabah virus corona, jaringan media sosial justru dipenuhi dengan kepanikan setelah gambar dan video bermunculan di internet.

Warga Cina menunjukkan kepanikan dan frustrasi di media sosial. Mereka ingin menyebarkan informasi karena merasa kurangnya akurat nya informasi di media resmi. Mereka pun memutuskan untuk membagikan video dan informasi yang mereka lihat dengan mata kepala sendiri dan terjadi di sekitar tempat tinggal nya.

Alih-alih memuji beberapa warga justru mengkritik para pejabat yang menangani krisis wabah virus corona di China. Mereka mengkritik pejabat karena dinilai telah gagal menahan wabah awal di Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei. Pemerintah di nilai gagal untuk membatasi penduduk ke fasilitas yang penuh sesak di wilayah tersebut dan juga fakta bahwa pemerintah tidak mengunjungi daerah yang terkena dampak.

“Jangan mengganggu para pemimpin saat mereka mendengarkan lagu dan pergi ke luar negeri untuk wawancara,” sindir salah seorang warganet dengan sinis di media social

Cerita Lewat Media Sosial
Masyarakat Panik, Media Sosial Sebarkan Informasi Terkait Virus Corona Di Media Sosial, Hoax?

Para pengguna media sosial membagikan pengalaman mereka saat menunggu dalam antrean di rumah sakit selama berjam-jam, mengantar orang-orang yang dicintai yang sakit dari rumah sakit ke rumah sakit, hanya untuk dipulangkan ke rumah tanpa diperiksa apakah dia terinfeksi virus corona.

Dikutip dari New York Times, 25 Januari 2020, beberapa rumah sakit di kota-kota yang terkena dampak telah mengirimkan permohonan sumbangan secara daring, mengatakan mereka kekurangan masker bedah, sarung tangan, dan persediaan lainnya.

Kemudian beberapa petugas kesehatan mengeluhkan tentang tantangan yang mereka hadapi untuk sampai ke rumah sakit di kota-kota di mana transportasi umum telah ditutup dan layanan taksi dihentikan.

Video yang beredar dalam kelompok obrolan dan jejaring sosial menunjukkan pasien di Wuhan dimasukkan ke dalam ambulans oleh pekerja yang mengenakan pakaian pelindung seluruh tubuh di luar sekolah dasar, atau diangkut dalam tabung plastik di Huizhou, sebuah kota di provinsi tenggara Guangdong.

Dalam video Twitter yang dilaporkan RT 23 Januari, menunjukkan seorang pasien bermasker terbaring di rumah sakit yang kemudian didekati oleh petugas medis berpakaian pelindung. Video lain mengungkap bagaimana lorong rumah sakit penuh sesak.

Sementara Mirror.co.uk pada 24 Januari melaporkan sebuah gambar dan video viral dari Instagram, menunjukkan pria terkapar di pinggir jalan.

Video-video tersebut seringkali tidak memiliki sumber terverifikasi. Meski demikian video dan gambar tersebut telah tersebar dalam beberapa hari terakhir di antara para pengguna internet Cina tanpa adanya informasi yang lebih resmi.

Adapun media yang dikelola pemerintah sebagian besar mengecilkan krisis, sebaliknya berfokus pada upaya pejabat pemerintah dan kepahlawanan pekerja medis.

Hanya beberapa media berita yang melaporkan secara kritis penanganan wabah oleh sistem perawatan kesehatan dan pemerintah.

Dibalik simpang siur berita yang beredar di dunia maya, namun nyatanya hal tersebut justru  telah terbukti berguna dalam menyampaikan jumlah korban aktual akibat virus corona.

Leave a Reply